Memaparkan catatan dengan label Sirah Sahabat. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sirah Sahabat. Papar semua catatan

Rabu, 7 September 2011

Kisah pemuda suci

Bicara hari Rabu :

Ada satu kisah tentang seorang pemuda yang suci, yang perlu kita teladani.

Hushain bin Muhammad mengatakan, "Ada seseorang yang mengatakan kepadaku bahawa di Madinah terdapat salah seorang penduduk yang selalu melaksanakan solat fardhu bersama dengan Khalifah Umar bin Al-Khattab ra. Umar bin Al-Khattab akan mencarinya apabila ia tidak mendapati pemuda tersebut solat bersamanya.

Di antara para perempuan Madinah, terdapat seorang perempuan muda lagi cantik yang sangat meminati pemuda tersebut. Perempuan muda itu telah mengutarakan maksud hatinya tersebut kepada para perempuan di Madinah.
Kemudian, salah seorang perempuan tua di situ mengatakan, "Sesungguhnya aku mahu memujuk pemuda tersebut untuk kamu, dengan memerangkapnya agar kamu dapat bertemu dengannya."

Setelah itu, perempuan tua tersebut sengaja duduk di tepian jalan. Ketika pemuda tersebut melewatinya, perempuan tua tersebut mengatakan, "Sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang tua. Aku memiliki seekor kambing yang tidak dapat aku tangkap untuk memberinya tali. Kalaulah kamu bersedia memasuki rumah dan memberinya tali, tentunya aku sangat senang."

Pemuda tersebut adalah seorang yang sangat suka berbuat baik. Dia akhirnya memasuki rumah perempuan tua itu tetapi tiada seekor kambing pun yang dilihatnya.
Perempuan tua tersebut kemudian berkata, "Duduklah, aku akan membawanya kepadamu."

Ternyata yang keluar adalah perempuan muda yang cantik tersebut, lalu langsung menghampiri pemuda itu. Pemuda tersebut terkejut, lalu terburu-buru menuju balkoni rumah dan duduk di sana.

Tanpa berputus asa, perempuan muda tersebut terus merayu kepada pemuda tersebut.

Tetapi pemuda itu menolaknya, dengan mengatakan, "Wahai perempuan! Takutlah kamu kepada Allah swt."

Akan tetapi, perempuan muda itu tidak mengendahkan seruan pemuda itu.

Ketika mengetahui bahawa pemuda itu masih tidak mahu memenuhi keinginannya, perempuan muda itu berteriak keras sehingga orang ramai mengerumuninya. Kemudian dia berkata, "Sesungguhnya pemuda ini telah memasuki rumahku dan menginginkan diriku."

Spontan orang-orang yang datang itu telah bergerak memukul pemuda itu lalu mengikatnya.

Pada waktu Umar bin al-Khattab ra melakukan solat subuh, ia tidak menemui pemuda tersebut. Tiba-tiba para penduduk datang menghadap beliau dengan membawa pemuda yang telah terikat tubuhnya tersebut.

Ketika Umar ra melihat pemuda yang terikat tersebut, ia mengatakan, "Ya Allah, jangan Engkau salahkan persangkaanku terhadap dirinya." Lalu beliau ra bertanya kepada orang ramai, "Apa yang kalian lakukan?"

Mereka menjawab, "Ada seorang perempuan yang berteriak meminta tolong pada malam hari, kemudian kami datang dan menemukan pemuda ini berada di balkoni rumah perempuan itu, lalu kami memukilinya dan mengikatnya."

Mendengar itu, Umar ra berkata kepada pemuda itu, "Ceritakanlah kepadaku dengan jujur kejadian yang sebenarnya."

Kemudian pemuda itupun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Umar ra bertanya lagi, "Apakah kamu mengenal perempuan tua tersebut?"

Pemuda itu menjawab, "Ya, aku mengenalnya. Jika aku melihatnya, pasti aku mengenalinya."

Kemudian Umar ra membawanya menemui para perempuan yang berada di Madinah, yang muda mahupun yang sudah tua. Mereka pun dikumpulkan dan diperlihatkan. Akan tetapi, pemuda itu tidak mengenali mereka.

Hingga akhirnya seorang perempuan tua muncul di hadapan pemuda itu. Dan dengan cepat pemuda itu berseru, "Wahai Amirul Mukminin, inilah orangnya!"

Setelah itu, Umar ra bertanya kepada perempuan tua itu, "Jujurlah kamu kepadaku."
Lantas perempuan tua itu menceritakan kisah yang sebenarnya, sebagaimana yang diceritakan oleh pemuda tersebut.

Mendengar itu, Umar al-Khattab ra mengatakan, "Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah swt yang telah menjadikan orang yang menyerupai Nabi Yusuf berada di antara kita."

Khamis, 9 Oktober 2008

Kisah Jihad Ummu 'Imarah ra, Sahabat Wanita Yang Mujahidah

Artikel ini dipetik dari buku "70 Wanita Terbilang Di Zaman Nabi Muhammad saw", tulisan Abu Azka al-Madani dan Harun Arrasyid Hj Tuskan, terbitan Al-Hidayah Publishers, 2004, Kuala Lumpur.

Nama sebenar Ummu 'Imarah ialah Nusaibah binti Ka'ab bin 'Amr bin Auf bin Mabzul al-Anshariyah al-Khazriyah an-Najjariyyah al-Maziniyyah.

Imam al-Zahabi pernah berkata, "Ummu 'Imarah yang mulia adalah seorang mujahidah, ikut serta menyaksikan Bai'at al-'Aqabah, Perang Uhud, Perang Hudaibiyyah, Perang Hunain dan Perang Yamamah."

Ketika Perang Uhud terjadi, Ummu 'Imarah keluar untuk memberikan minuman kepada pasukan Muslimin yang kehausan dan merawat mereka yang terluka. Tatkala pasukan Muslimin mulai terdesak dalam perang tersebut setelah menguasai sebelumnya dan lari daripada peperangan, kecuali hanya beberapa orang sahaja yang tetap bertahan, maka Ummu 'Imarah menghunuskan pedangnya dan memakai perisai serta melindungi Rasulullah saw daripada jangkauan musuh.

Ummu 'Imarah selalu berusaha untuk melindungi Rasulullah saw ketika Perang Uhud daripada segala merbahaya yang datangnya daripada musuh, sehingga Rasulullah saw bersabda yang bermaksud, "Aku tidak menoleh ke kiri dan ke kanan kecuali aku melihat Ummu 'Imarah berperang di hadapanku."

Perang Uhud masih berlanjutan, keluarga mujahidah melingkari Rasulullah saw untuk melindungiNya. Ketika salah seorang anaknya yang bernama Abdullah terluka parah, Ummu 'Imarah mengikat luka tersebut sambil berkata, "Bangun wahai anakku!" Maka anaknya terus melawan para musyrikin. Maka Rasulullah bersabda yang bermaksud, "Wahai Ummu 'Imarah! Siapakah yang mampu membuat seperti apa yang kau lakukan?"

Ketika orang musyrik yang melukai anaknya mendekat, Rasulullah berkata kepada Ummu 'Imarah, "Ini dia orang yang melukai anakmu." Seketika itu juga Ummu 'Imarah menghampiri orang tersebut dan berjaya melukai betis orang tersebut dengan pedangnya. Rasulullah tersenyum sambil berkata, "Ya Ummu 'Imarah! Engkau telah berhasil membalasnya."

Kemudian Ummu 'Imarah bersama yang lain berhasil membunuh musyrik tersebut. Maka Rasulullah saw bersabda yang bermaksud, "Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanmu dan menggembirakan hatimu daripada musuhmu serta memperlihatkan balas dendammu di hadapanmu."